Studi Morfologi Dan Fisiologi Padi Rawa Lebak Lokal Dalam Kondisi Terendam Fase Vegetatif

Gusmiatun, Gusmiatun and Suwignyo, Rujito Agus and Wijaya, Andy and Hasmeda, Mery (2012) Studi Morfologi Dan Fisiologi Padi Rawa Lebak Lokal Dalam Kondisi Terendam Fase Vegetatif. In: Membangun Negara Agraris Yang Berkeadilan dan Berbasis Kearifan Lokal, 2012, Universitas Sebelas Maret Surakarta .

[img]
Preview
PDF
Download (3903Kb) | Preview

    Abstract

    Kendala pengembangan padi di lahan rawa lebak adalah adanya genangan air, bahkan tanaman bisa terendam akibat banjir yang saat ini tidak dapat diprediksi akibat pola perubahan iklim sebagai dampak pemanasan global. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah adanya varietas yang toleran terhadap kondisi terendam. Varietas yang dimaksud bisa berasal dari varietas lokal yang sudah beradaptasi lama dengan kondisi setempat, atau varietas unggul yang dirakit dari genetik lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter morfofisiologi genetik padi lokal rawa lebak pada fase vegetatif dalam kondisi terendam, sebagai bahan seleksi untuk menentukan tetua dalam merakit varietas unggul rawa lebak, atau untuk diusulkan sebagai varietas. Penanaman di lapangan mengikuti rancangan Split-Plot, sebagai petak utamanya adalah P1= tanpa perendaman, P2= perendaman selama satu minggu pada satu MST, P3= perendaman selama satu minggu pada satu dan lima MST; sebagai anak petak yaitu 5 genotipe lokal (Ruti, Uffa, Lambur, Payak Acan, Payak Selimbuk); 1 varietas introduksi (FR13A); 3 varietas unggul rawa (Impara 3, 4 dan 5); dan 2 varietas unggul nasional (Ciliwung, IR64). Hasil percobaan menunjukkan bahwa tinggi tanaman untuk semua genotype yang diuji, rata-rata mengalami penurunan tinggi tanaman akibat perendaman, yang paling sedikit mengalami penurunan adalah genotipe lokal Uffa, tetapi tingginya masih dibawah FR13A. Skoring tampilan tajuk terbaik setelah mengalami perendaman adalah Payak Selimbuk. Berat kering daun tertinggi akibat perendaman adalah Uffa, berat kering batang tertinggi adalah Lambur, dan berat kering akar tertinggi adalah Payak Selimbuk. Jumlah anakan terbanyak dihasilkan oleh Payak Selimbuk. Kandungan klorofil dan karbohidrat untuk semua genotype yang diuji tidak menunjukkan perbedaan akibat perendaman namun demikian perendaman menurunkan kandungan keduanya

    Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
    Uncontrolled Keywords: morfofisologi, fase vegetatif, padi rawa local, kondisi terendam
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Faculty of Agriculture > Department of Agronomy
    Depositing User: Rudi Kule
    Date Deposited: 21 Apr 2014 09:55
    Last Modified: 21 Apr 2014 09:55
    URI: http://eprints.unsri.ac.id/id/eprint/4325

    Actions (login required)

    View Item