Ruang Bersama di Kolong Studio Akanoma (ke-kini-an Arsitektur Jawa)

Adiyanto, Johannes (2012) Ruang Bersama di Kolong Studio Akanoma (ke-kini-an Arsitektur Jawa). In: Seminar Nasional Semesta Arsitektur Nusantara 1; “Ruang Bersama Nusantara” , 12 Desember 2012, Universitas Brawijaya, Malang .

[img]
Preview
PDF (Proseding Seminar Nasional Semesta Arsitektur Nusantara 1; “Ruang Bersama Nusantara” untuk kehidupan yang lebih baik’) - Published Version
Download (6Mb) | Preview

    Abstract

    Kajian Arsitektur Jawa telah banyak dilakukan, namun pengembangan desain berdasarkan arsitekur Jawa atau reinterpretasi arsitektural belum banyak dilakukan. Hal ini karena adanya pemahaman bahwa arsitektur lokal masa lalu bersifat sakral dan tidak boleh diubah atau diinterpretasi ulang. Dalam kajian Anas Hidayat (2003) dikatakan bahwa omah merupakan rumah panggung yang ngeblak (=roboh ke belakang) dan dinyatakan juga bahwa pendhapa adalah memory of kolong. Dalam pengamatan dari Revianto Budi Santoso dinyatakan bahwa di pendhapa sering berlangsung aktifitas berkumpul pemilik rumah dan para tetangga untuk mendengarkan radio (berlangsung tahun 1960-an) (Santoso, 2000). Dengan kata lain pendhapa merupakan social space seperti yang dinyatakan oleh Bourdieu (1985). Di sisi desain kontemporer, Yu Sing telah melakukan re-interpretasi terhadap pendhapa dan difungsikan sebagai studio arsitekturnya (studio Akanoma). Yu Sing benar-benar ‘mengeluarkan’ pendhapa Jawa dari akarnya (dibelinya dari Solo), kemudian pendhapa tersebut ini ditempatkan di Padalarang, Jawa Barat. Yu Sing ‘membangunkan’ posisi ngeblak dari rumah Jawa, sehingga rumah Jawa memiliki kolong. Ide desain Akanoma tidak hanya menegakkan rumah Jawa secara bentuk arsitektural, tapi jika ditinjau dari prilaku interaksi sosial, ‘kolong’ tersebut mewadahi aktifitas bersama antara penghuni dan masyarakat sekitar. ‘Kolong’ Akanoma bahkan kadang disebut sebagai ‘balai RW’. Hal interaksi sosial juga dilakukan Budi Pradono dengan Rumah Pori-porinya. Tetapi yang membedakannya, karya Budi Pradono masih mempunyai jarak antara rumah dengan ruang interaksi sosial (diletakkan di bagian halaman depan rumah) sedangkan Studio Akanoma berlangsung di bagian kolong studio, jadi jarak menjadi jarak intim, dan juga makin intim karena lantai studio tersusun atas jalinan bambu, sehingga aktivitas di kolong mampu ‘diintip’ dari ruang studio diatasnya. Dengan demikian desain studio Akanoma tidak hanya ber-reinterpretasi secara bentuk – menegakkan rumah Jawa yang sebelumnya ngeblak – tapi juga dapat ditinjau dari sudut pandang perilaku yang mewadahi interaksi sosial warga sekitar dan penghuni studio. Interaksi sosial di ruang bersama yang terjadi di kolong Studio Akanoma merupakan ke-kini-an arsitektur Jawa. Arsitektur Jawa hanya salah satu kasus yang mampu dan harusnya dapat diinterpretasi ulang, sehingga arsitektur masa lalu bukan untuk disakralkan tapi menjadi sumber inspirasi untuk masa depan.

    Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
    Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
    Divisions: Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
    Depositing User: Dr Johannes Adiyanto
    Date Deposited: 19 Mar 2014 17:25
    Last Modified: 19 Mar 2014 17:25
    URI: http://eprints.unsri.ac.id/id/eprint/3672

    Actions (login required)

    View Item