Kuto Besak dari Keraton menjadi Benteng (1812-1822)

Farida, Farida (2013) Kuto Besak dari Keraton menjadi Benteng (1812-1822). In: Seminar kenaikan pangkat. (Submitted)

[img]
Preview
PDF
Download (154Kb) | Preview
    [img]
    Preview
    PDF
    Download (341Kb) | Preview

      Abstract

      Kajian ini berjudul “Kuto Besak dari Keraton menjadi Benteng (1812-1822)”. Permasalahan yang dikaji adalah “bagaimana kedudukan Keraton Kuto Besak dalam Kesultanan Palembang, dan mengapa terjadi perubahan nama dan fungsi menjadi Benteng Kuto Besak”. Tujuannya adalah “untuk menjelaskan kedudukan Keraton Kuto Besak dalam Kesultanan Palembang, juga untuk menjelaskan penyebab terjadinya perubahan nama, sekaligus fungsi dari keraton menjadi benteng”. Kajian ini memanfaatkan arsip sebagai sumber primer yang diperoleh dari lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Data yang digunakan khususnya Bundel Palembang, dan Bangka. Sumber lain yaitu Koran dan jurnal yang didapat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), buku-buku, juga internet. Metode penelitian sejarah terdiri dari pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, interpretasi sumber, dan rekonstruksi.Keraton Kuto Besak adalah lambang supremasi sultan yang berkuasa. Di Kesultanan Palembang, posisi Kuto Besak sangat menentukan. Hal tersebut tidak saja dikarenakan keraton tersebut merupakan keraton terbesar, dan terkuat, juga terbukti kedudukan sultan di keraton dapat dilihat dari “restu” penguasa asing yang terlibat dalam berbagai konflik di Palembang. Sultan yang diakui oleh bangsa asing (Inggris/Belanda) akan menduduki keraton Kuto Besak, sedangkan yang tersisih harus keluar dari keraton tersebut. Berbagai peristiwa tersebut dapat dirunut mulai dari ekspedisi Inggris ke Palembang pada tahun 1812, pembagian kekuasaan pada 1819, dan perang penaklukan atas Palembang pada tahun 1821. Semua itu juga dapat dilihat dari lokasi sultan berkuasa, yaitu sultan yang berkuasa akan berkedudukan di Kuto Besak. Sebaliknya, sultan yang tidak mendapat “legitimasi” harus keluar dari keraton itu. Bukti terakhir dapat dilihat pascadibuangnya Sultan Badaruddin II dari Kesultanan Palembang, sultan yang naik tahta atas restu pemerintah kolonial Belanda harus keluar dari keraton Kuto Besak

      Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
      Uncontrolled Keywords: Kuto Besak,lambang kekuasaan,perubahan
      Subjects: D History General and Old World > D History (General)
      Divisions: Faculty of Teacher Training and Science Education > Department of Social Sciences Education > History Education
      Depositing User: Rudi Kule
      Date Deposited: 26 Dec 2013 17:04
      Last Modified: 24 Mar 2014 10:10
      URI: http://eprints.unsri.ac.id/id/eprint/3301

      Actions (login required)

      View Item